Website ini di dedikasikan untuk memberi inspirasi dan mendorong pelayanan umat Kristen di Indonesia.
Dari umat Baptis, oleh umat Baptis, dan untuk umat Baptis.
Fitur blog ini akan di dukung oleh sistem database MYSQL pada tanggal 25 Juli 2009

Senin, 22 Juni 2009

Gereja Masa Depan * Quality Structure Quantity

Kualitas yang dimaksud berupa nilai-nilai,isi,bobot, spirit atau karakter. Kualitas itu mencakup juga profetik apostolik. Gereja tidak punya kualitas bangunan yang kokoh kalau modelnya hanya gereja penggembalaan saja, mesti bergerak dalam gereja kerasulan dan kenabian. Karena gereja harus dibangun diatas dasar para rasul dan para nabi(Ef 2:20). Jadi mana mungkin sebuah bangunan menjadi kuat kalau kualitas fondasinya tidak mendukung?

Kalau jemaat tidak dibangun di atas pelayanan kenabian yang kuat maka jadinya karakter amburadul, dosa-dosa,ketidakadilan,hubungan yg rusak dibiarkan. Visi segar dan pewahyuanpun tidak ada.Tapi kalau tanpa pelayanan apostolik juga tidak mungkin karena pelayanan kerasulan itu berarti pengaturan,pengelolaan,pengembangan dan strategi pencapaian pada visi.

Ada pepatah yg mengatakan ada gula ada semut .Yang perlu ditanyakan apakah gulanya memang manis sampai semut datang? Nah jika kualitas kita diibaratkan gula seberapa “manis” kita sampai dunia ini merasakan manisnya gereja.
Filipi 2:1 menyatakan tidak hanya kasih yang biasa saja tetapi kasih mesra. Kualitas kasih dari gereja bukan kasih yg pura-pura tetapi kasih yg hangat.

Ukuran kualitas karakter kitapun berpatokan pada kualitas karakter Yesus yang lemah lembut dan rendah hati(Mat 11:29). Maka karakter gereja yang berkualitas adalah gereja yang sudah belajar dari kerendahan hati dan kelemah lembutan Yesus. Kalau gereja punya bobot dan kualitas, “semut” akan datang.Orang-orang mencari Yesus dan bersusah payah datang kepadaNya karena telah menikmati kehidupan Yesus yg “manis” dan mereka dikenyangkan oleh Roti Hidup (Yoh 6:26).

Apa yang kita kejar?

Mengejar yang namanya kuantitas sebagai orientasi yg utama tanpa peduli dengan pertimbangan kualitas mengakibatkan capek, mungkin secara kuantitas jemaat banyak tapi tidak berbobot (istilah di dunia usaha adalah ketiadaan manajemen kendali mutu). Biasanya pengejaran kuantitas diupayakan melalui struktur sedangkan yg dimaksud struktur di sini termasuk metoda, cara, tehnik, sistem,acara2,brosur,dsb.

Beberapa waktu yang lalu ada berita yang cukup mengejutkan dari sebuah majalah Singapore (artikel “Church and business”) dan majalah kepemimpinan “Charisma” dari AS serta teman-teman yang mengirim berita via internet yang menyatakan bahwa sebagian gereja-gereja mega church (gereja besar yg terobsesi memakai banyak cara untuk mengejar jumlah) sekarang terlanda frustrasi luar biasa dan dalam kondisi burn out. Orang mulai mengajukan pertanyaan dan berpikir untuk : menjadi banyak atau menjadi besar?

Kita suka menjadi besar saja sedangkan Tuhan senang komunitas kecil yang matang dan bermultiplikasi. Pada kenyataannya kita suka gereja berpenampilan seperti gajah drpd seperti kelinci tanpa menyadari bahwa menjadi besar berarti akan mengundang hal-hal yang rumit dan beban-beban yang tak tertanggungkan seperti sistim kontrol,birokrasi,pengelolaan,fasilitas dan beban kepemimpinan.

Seharusnya kita membiarkan kualitas kehidupan bertumbuh dan mengalir wajar kepada struktur ,yg pada gilirannya akan menuju kepada pencapaian kuantitas sebagai hasilnya .

Pertanyaannya : kualitas mengejar kuantitas atau mengejar kuantitas dengan mengorbankan kualitas?

Gereja telah membuat diri mereka sendiri berfokus secara tidak sehat pada kuantitas. Keinginan gereja adalah bagaimana mengejar jumlah. Mengejar jumlah sebanyak mungkin dan secepat mungkin. Tidak ada pola pikir sama sekali dalam Perjanjian Baru bahwa gereja dikendalikan secara kuat oleh jumlah. Kenyataanya gereja seringkali dikendalikan jumlah.

Awalnya…

Steve Smith dalam bukunya The Quality Revolution atau Revolusi Kualitas, dia mengarang buku ini untuk merevolusi kualitas dalam dunia perniagaan pada sekitar tahun 1930. Era sebelum tahun 30’an dunia perdagangan di seluruh dunia percaya bahwa kekuatan barang ada di kualitas.

Contoh : Biola dibuat satu bulan satu saja, harganya bisa puluhan juta. Setelah tahun 1930 biola dibuat sebanyak mungkin dan secepat mungkin, sehingga pikiran umum manajemen dan dunia usaha pada waktu itu begini: tumpuk barang sebanyak-banyaknya dan pasarkan secepat-cepatnya. Makin banyak produk dihasilkan dengan konsentrasi pada pencapaian kuantitas maka kualitasnya dipertanyakan. Setelah tahun 1930, orang tidak terlalu konsentrasi pada kualitas. Itu adalah spirit pada jaman itu, tetapi spirit itu mempengaruhi pelayanan dan penginjilan pada jaman itu. Paradigma dunia perdagangan itu pada akhirnya banyak mempengaruhi pemikiran dan bagaimana cara gereja dikelola. Raih jiwa sebanyak-banyaknya menjadi konsentrasi utama dengan mengorbankan pemikiran follow up dan dan pengembangan kualitas dan kematangan.

Orientasi dan prinsip Perjanjian Baru

Tidak ada bukti kuat dalam Perjanjian Baru yang memberi dorongan untuk mengupayakan kuantitas sebanyak mungkin dan secepat mungkin.
Pergilah ke seluruh dunia, jadikanlah semua bangsa murid, …Jadi sebenarnya perintah utama itu memuridkan. Prioritas kita adalah kita pergi ke seluruh dunia dan punya murid, bukan cari pengikut sebanyak-banyaknya. Dunia memang harus secepatnya dijangkau tetapi bukan dengan cara kita tapi memakai prinsip-prinsip Allah. Bukan mengejar pertambahan linear tapi mengganda secara eksponensial.

Saya kira apa yang telah terjadi di tengah-tengah gereja hari ini, sangat perlu memperhatikan nasihat Francis Schaeffer, yang berkata begini, "Cepat-cepat bertindak sekarang dan berpikir belakangan adalah kata-kata yang datang langsung dari neraka”.

Kalau orientasi utama yang dianggap benar adalah fokus pada jumlah semata maka Yesus bisa dianggap gagal. Yesus sendiri tekun membangun kehidupan 12 orang yang Bapa percayakan kepadaNya dan kita melihat dampak dari kehidupan murid-muridNya yang mewarnai sejarah dunia dengan misi penebusan.Yesus lebih tertarik menggandakan kehidupanNya daripada terus menerus menyelenggarakan kebaktian kebangunan rohani yang dihadiri ribuan orang.

Cara mencapainya
Untuk mencapai kuantitas strateginya bisa saja pakai upaya manajemen2 sekuler atau cara2 yg dipakai dalam dunia bisnis yg biasanya penuh manipulasi dan trik tetapi untuk menghasilkan kualitas harus pakai cara Yesus. Memakai pendekatan hubungan drpd program, melakukan dialog drpd kotbah monolog,membagi hidup drpd sekedar memberi perintah,pergi kpd jiwa2 drpd menunggu mereka datang karena undangan kita,berkorban waktu dan segala yg dimiliki drpd membuat seminar dan pelatihan singkat,berperan sebagai model drpd banyak bicara.Semua dilakukan dengan prinsip2 Allah. Hal pertumbuhan rohani tidak dapat diraih dengan cara2 jasmani.Apa yang berasal dari roh tidak dapat dikerjakan dengan cara daging.
Yesus berkata, "Aku akan membangun gereja-Ku". (Matius 16:18)

Dari kalimat itu mungkin akan muncul 4 intepretasi sbb :
  1. Aku akan membangun gerejaku : upaya daging membangun daging, jadinya agama.
  2. Aku akan membangun gereja-Ku : upaya daging membangun roh; tidak mungkin tercapai.
  3. Aku akan membangun gerejaku : ini berarti memakai Tuhan demi kepentingan kita.
  4. Aku akan membangun gereja-Ku : ini yang benar, Roh membangun roh.
Mulai sekarang berhentilah meminta Tuhan memberkati apa yang kita kerjakan tapi mulailah mengerjakan apa yang Tuhan berkati. Sekarang mulai mencari apa yang Tuhan berkati.

Being dan doing

Tuhan itu punya kualitas dan kualitas Tuhan adalah kasih, pengharapan, iman, kebenaran, belas kasihan. Perhatikanlah, kualitas Tuhan itu menunjukkan keberadaan Allah; tidak menunjukkan pekerjaan Allah tapi menunjukkan siapa Allah.Ini “being”-nya Allah - keberadaan Allah, bukan “working” atau “doing”-nya Allah.

Allah berkata, "Aku adalah Aku". Dia menunjukkan 'being'-Nya setelah itu baru berkata "Pergilah ke Mesir, bebaskan bangsa-Ku". 'Being'-nya Allah yang berbelas kasihan melahirkan misi untuk menjangkau umat-Nya kembali.

Apa pekerjaan Allah atau doing-Nya? Penyelamatan, mengampuni, meneguhkan, menyembuhkan, memulihkan, menyempurnakan.

Mestinya gereja Tuhan bertumbuh kuat juga dalam “being”nya maka pasti semua yg dikerjakan akan menghasilkan kekekalan dan kekuatan.

Mengoreksi paradigma kita

Pikiran menghasilkan tindakan, tindakan mewujudkan hasil, hasil menuai nasib. Yang menentukan masa depan kita adalah hasil dari waktu ke waktu, tapi hasil dari waktu ke waktu tergantung dari tindakan-tindakan kita. Biasanya tindakan kita keluar dari pikiran-pikiran kita sedangkan pikiran kita diatur oleh tujuan hidup.

Masa depan suram atau masa depan cerah tergantung pikiran dan cara pandang kita hari ini terhadap kehidupan.Demikian juga masa depan gereja dan pelayanan kita sangat ditentukan paradigma yg melatarbelakangi seluruh pekerjaan kita.

Beberapa waktu yang lalu, dunia mengalami depresi Yonggi Cho yaitu orang datang ke Korea belajar pertumbuhan gereja, dicontoh persis metodanya dan dicopy sistemnya;lalu pulang ke negaranya dan mencoba mempraktekkannya tetapi kemudian hasilnya tidak seperti yang diharapkan dan dilihat kemudian mereka mengalami depresi. Orang tidak mempelajari mengapa Yonggi Cho berhasil sampai jemaatnya 800 ribu, semua mengcopy sistem atau metodanya dan bukan proses yg pernah dijalani sebelum mencapai hasil. Padahal Yonggi Cho berkata bahwa dia berhasil karena:

  1. Prinsip-prinsip yang ada saya temukan didalam pengalaman hidup yang panjang. Pertumbuhan dalam kehidupan adalah proses, tidak instan. Jangan metodanya yang ditiru tapi prinsipnya. Prinsipnya bahwa kelompok kecil itu memiliki kekuatan yg berasal dari hubungan kuat yg dibangun oleh usaha serta pengorbanan dan bukan sekedar membentuk kelompok dengan jumlah kecil. Nilai2 yg kuatlah yg mendapat prioritas dan dibangun terlebih dahulu.Jadi prinsip Yonggi Cho itu datang dari Allah.
  2. Ketaatan.
Dalam Kisah 5:28, Yohanes dan Petrus dituduh oleh orang-orang agama. Tuduhannya adalah mereka berdua telah memenuhi seluruh Yerusalem dengan ajaran tentang nama Yesus.

Yerusalem ternyata memang penuh dengan nama Yesus tetapi ribuan pengikut Yesus yg menggoncangkan Yerusalem itu juga lahir melalui tangisan Yesus dalam belas kasihan untuk Yerusalem. Yesus berkali-kali menempatkan kota itu di hati-Nya. Yesus terlibat langsung dan membangun hubungan dengan kehidupan masyarakatnya dan tidak menjadi teralienasi dan terpinggir. Setelah Yesus mati maka Dia telah meninggalkan para rasul yang selama 3,5 tahun hidup bersamaNya dan tertular oleh “virus”Nya.Rasul-rasul itu telah disentuh dari jarak dekat oleh kehidupan dan kualitas ilahiNya. Sesaat mereka bersedih karena Yesus telah naik ke sorga tetapi setelah itu kita lihat kisah gagah berani tentang rasul2 yg merubah wajah kotanya.

Kawanan kecil dengan potensi besar

Banyak orang berkata bahwa ‘kawanan kecil’ yang dibicarakan Yesus dalam Lukas 12 berarti gereja memang selalu merupakan kelompok minoritas. Bukan itu yang dimaksud Yesus. Ia sedang berbicara tentang sebuah komunitas ukuran kecil sebagai ukuran yang normal dari Gereja-Nya, bertemu dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 10-15 orang di rumah-rumah. Merekalah kawanan kecil dengan warisan yang luar biasa: ‘Bapa berkenan memberikan kepada mereka kerajaan.’ Ukuran gereja yang tidak mengesankan seperti ini seharusnya tidak membodohi atau membuat ragu siapa pun mengenai potensi kerohanian, moral, ekonomi dan bahkan potensi politiknya: sebab Allah dengan senang hati memutar-balikkan ukuran dan acuan dunia ini dan membiarkan orang-orang yang lemah lembut, dengan sebuah ‘struktur yang rapuh’, untuk mewarisi bumi. Visi-Nya tentang apa yang dapat dilakukan oleh ‘kawanan kecil’-Nya barangkali ‘setinggi langit dari bumi’. Kawanan kecil dari yang Allah yang besar tentulah lebih besar dibanding kawanan besar dari Allah yang kecil!

Semakin kecil, semakin besar potensi pertumbuhan

Dalam sebuah proyek penelitian yang mencakup seluruh dunia, peneliti pertumbuhan gereja dari Jerman Christian Schwarz telah mempelajari jumlah pertambahan rata-rata jemaat dalam sebuah gereja lokal, dalam kurun lima tahun:

Gereja dengan pengunjung di atas 1000 (ukuran rata-rata dalam penelitiannya:51) memenangkan 32 orang baru dalam kurun 5 tahun, dan bertumbuh dari 51 menjadi 84 pengunjung, yang berarti terjadi pertumbuhan sebanyak 63 persen. Sebagai perbandingan, sebuah gereja besar atau bahkan megachurch dengan jemaat lebih dari 1000 orang (ukuran rata-rata dalam penelitiannya:2856) memenangkan 112 orang dalam kurun 5 tahun, itu berarti angka pertumbuhannya 4 persen.

Membandingkan angka pertumbuhan antara gereja berpengunjung di bawah 100 dengan gereja yang terdiri 100-200 orang, perberbedaan antara keduanya sudah sangat mencolok, gereja yang lebih kecil angka pertumbuhannya hampir 3 kali lebih besar dari gereja yang lebih besar.

Penelitian yang mengejutkan ini juga menunjukkan bahwa gereja yang beranggotakan 2856 orang, artinya yang 56 kali lebih besar dari rata-rata ‘gereja kecil’ dengan 51 anggota, hanya memenangkan tiga kali sedikit lebih banyak dari gereja yang kecil.

Dengan kata lain, jika kita mengambil sebuah gereja raksasa dan membaginya menjadi 56 gereja beranggota 51 orang di masing-masing gereja, maka mereka akan, secara statistik, memenangkan rata-rata 1792 orang dalam kurun 5 tahun, 16 kali lebih banyak dari pada berada dalam keadaannya yang ‘raksasa’ itu. Dari sudut pandang yang berbeda, struktur gereja-gereja raksasa itu rata-rata mencegah 1680 orang untuk dimenangkan pada setiap kurun lima tahun.

Hasil akhir dari penelitian ini menunjukkan bahwa gereja-gereja kecil lebih efektif dalam menarik orang. Hubungan antara keduanya jelas sekali, sederhana seperti permainan undak-undakan di taman bermain: statistik menunjukkan bahwa yang paling menonjol di dalam segala kasus adalah, pada saat kuantitas meningkat, potensi pertumbuhan menurun.

Membandingkan potensi pertumbuhan “gereja kecil” dan Gereja Rumah

Apa yang tidak ditunjukkan Schwartz pada kita, bagaimanapun, adalah bagaimana jadinya bila anda membandingkan potesi pertumbuhan dari organisme gereja rumah dengan ‘gereja kecil’ yang terorganisasir dan tradisional yang berpola sidang jemaat. Hal itu akan seperti membandingkan pertumbuhan sebuah benih dengan membangun setumpuk batu. Model sidang jemaat yang bertumbuh umumnya bertumbuh karena penambahan; gereja rumah bertumbuh dengan bilangan berpangkat.

Sistem yang satu akan menghasilkan pertumbuhan yang linear, yang satu lagi menghasilkan pertumbuhan eksponensial. Sekalipun kita tidak memiliki angka-angka empiris yang bersifat global untuk dapat membuat perbandingan, tanda-tandanya sangat jelas bahwa potensi pertumbuhan terus menerus meningkat pada saat ukuran gereja menjadi semakin kecil, dan kelihatannya mencapai potensi maksimum ketika sebuah gereja hanya terdiri dari 10-15 orang saja. Kita semua akan menghadapi permainan angka dan strategi untuk menyelamatkan dunia, dan saya pribadi sangat setuju bahwa statistik dari model ini seharusnya tidak diambil mentah-mentah. Bagi kita, angka atau jumlah tersebut hanya untuk menunjukkan ledakan potensi pertumbuhan dari organisme gereja rumah.

Catatan:

  • Keunggulan komunitas kecil:
  1. Semua anggota gereja terlibat dan mempergunakan karunia mereka.
  2. Makin kecil komunitasnya makin mantap fellowshipnya.

  • Hal-hal yang termasuk kualitas :
  1. karakter
  2. kapasitas dan skill
  3. kerohanian
  4. profetik apostolik
  5. kelompok kecil
  6. hubungan
  7. role model
  8. kuasa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar